Rabu, 12 Februari 2025

Mengenal Pendekatan Deep Learning Dalam Pembelajaran

 

Belajar di Mini Teater Edukatif Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan (Foto: Sigid PN)


Bagi saya, guru adalah profesi yang sangat mulia, dan menjadi seorang guru merupakan panggilan jiwa. Dari apa yang telah saya pelajari ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 11, bahwasannya pendidikan harus memerdekakan manusia agar bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan, memperhatikan kodrat alam dan zaman, memperhatikan kepentingan anak-anak didik, baik secara pribadi maupun sosial, memerdekakan manusia secara fisik, mental, jasmani, dan rohani, membentuk karakter dan moral murid, ruang untuk bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan, dan pendidikan harus menjadi tempat persemaian benih-benih kebudayaan.

Atas dasar tersebut di atas membuat saya ingin selalu menjadi guru pembelajar, tentunya agar saya dapat memiliki kompetensi yang tetap kekinian, dapat beradaptasi dengan keadaan zaman, dan dapat melaksanakan tugas dengan baik sesuai pedoman yang telah diterbitkan oleh Kemendikdasmen RI.

Saya bertugas sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMPN Satu Atap Cibulan yang berlokasi di Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Saya sangat tertarik dengan pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran yang disampaikan oleh Mendikdasmen RI Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. Dari rasa ketertarikan tersebut menimbulkan keingintahuan yang dalam agar tidak terjadi miskonsepsi, dan saya dapat menerapkannya dengan baik di kelas. Saya akan selalu berupaya untuk dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid-murid dengan pendekatan pembelajaran yang tepat.

Mengenal Deep Learning

Dalam konteks pendidikan, Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam dalam cakupan materi yang lebih sempit.

Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (Mindful), bermakna (Meaningful), dan menggembirakan (Joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), serta olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu.

Dengan kata lain, pembelajaran Deep Learning adalah pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, pemikiran kritis dan koneksi antar konsep atau materi yang dipelajari. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hafalan fakta atau prosedur, tetapi juga pada penerapan pengetahuan dalam situasi baru serta kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan sesuatu berdasarkan pemahaman.

Secara sederhana, Deep Learning dalam pendidikan adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengedepankan penguasaan pengetahuan secara mendalam, pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan pemahaman yang menyeluruh terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Dalam hal ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk menghafal informasi, tetapi diharapkan bisa menghubungkan, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks yang lebih luas.

Menurut Kamus Cambridge, Deep Learning atau pembelajaran mendalam adalah cara untuk mempelajari sesuatu sehingga sepenuhnya memahami hal itu dan tidak akan melupakan pembelajaran tersebut.

Sedangkan menurut Catherine McAuley College, Deep Learning membuat murid mampu berpikir kritis, komunikasi, serta bekerja dengan orang lain secara efektif di semua mata pelajaran. Deep Learning membuat murid bisa mengarahkan ilmu dan mengambil hal yang dipelajari untuk diterapkan ke situasi lain sebagai pembelajaran seumur hidup. Pada pembelajaran mendalam, murid akan meneliti fakta dan ide baru secara kritis serta mengaitkannya ke struktur kognitif dan membuat banyak kaitan antara ide yang ada.

Pembelajaran Deep Learning fokus mencari konsep memecahkan masalah, aktif berinteraksi, menggabungkan berbagai modul belajar, dan menerapkan pembelajaran ke kehidupan nyata. Murid yang menerapkannya menjadi punya rasa ingin tahu dan rasa percaya diri yang tinggi, terlibat secara mental, berpendidikan yang sesuai, serta fokus pada minat dan manajemen waktu yang baik.

Pada pendekatan Deep Learning, murid didorong untuk secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan menyelami topik yang sedang dipelajari, sehingga ia dapat menjelajah lebih dalam dan menikmati keindahan panorama dari topik tersebut. Pendekatan Deep Learning berbeda dengan pembelajaran yang hanya menekankan hafalan atau keterampilan permukaan. Pembelajaran Deep Learning lebih fokus pada pemahaman yang mendalam, analisis, penalaran logis dan solusi kreatif terhadap masalah yang ada. Murid diajak untuk benar-benar memahami prinsip dan konsep dasar suatu materi, bukan hanya menghafalnya. Fokus pada bagaimana dan mengapa suatu hal terjadi, serta penerapan konsep dalam kehidupan nyata.

Kebalikan dari Deep Learning adalah Surface Learning atau pembelajaran permukaan. Surface Learning hanya membuat murid menerima fakta baru tanpa berpikir kritis, fokus pada hafalan, pasif menerima informasi, tidak mengembangkan materi, dan belajar untuk ujian. Murid dengan Surface Learning tidak fokus pada bidangnya, kurang pengetahuan, beban belajar terlalu tinggi, dan hanya sekadar mengingat informasi.

Guru dalam pembelajaran Surface Learning tidak memberikan materi yang mendalam, membiarkan murid pasif, menilai soal isian pendek, dan memberi beban tugas banyak untuk murid. Contoh Surface Learning antara lain yaitu guru hanya memberi pelajaran ke murid di kelas. Kemudian, murid harus menghafal pelajaran tadi untuk dites dalam ujian sekolah.

Pendekatan pembelajaran Deep Learning sangat kontras dengan pendekatan pembelajaran Surface Learning (belajar di permukaan) yang berusaha membahas banyak materi secara luas dengan mengorbankan proses pemahaman dan peningkatan kompetensi dari para peserta didik. Murid akhirnya hanya terpaksa menghapal banyak hal tanpa dapat memaknai, memiliki, dan menikmati proses pembelajarannya.

Landasan Filosofis

Pendidikan idealnya tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memerdekakan, membentuk karakter, dan memberdayakan manusia untuk berkontribusi positif kepada masyarakat. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada kemandirian peserta didik, didukung oleh sistem among yang mencakup nilai asah, asih, asuh. Dalam pandangannya, pendidikan harus berakar pada budaya bangsa, berfungsi sebagai pranata sosial yang melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sebagaimana tercermin dalam konsep “Taman Siswa.”

Filosofi ini sejalan dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, yang melihat pendidikan sebagai alat perubahan sosial. Baginya pendidikan bukan hanya transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia berintegritas yang berperan aktif dalam menciptakan masyarakat berkemajuan dengan prinsip berbuat untuk kebaikan bersama tanpa memperalat orang lain. Menurut K.H. Hasyim Asy’ari pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan kolektif dan individu dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan sosial secara holistik. K.H. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan sejahtera melalui pendekatan yang inklusif, bermutu, dan relevan.

Landasan Yuridis.

Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merupakan hak setiap warga negara telah disampaikan dalam Pembukaan dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembelajaran Mendalam menjadi instrumen penting guna memenuhi hak warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan pada suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selanjutnya Pasal 3 Undang-Undang Sisdiknas mengamanatkan agar pendidikan ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian, Pembelajaran Mendalam diterapkan untuk mewujudkan dimensi profil lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, memiliki keterampilan sosial, dan keterampilan belajar sebagai warga negara.

Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).

Dari kegiatan MGMP Pendidikan yang saya ikuti, saya dapat memahami kerangka kerja dari pembelajaran mendalam. Kerangka kerja tersebut terdiri dari:

  • Kerangka Pembelajaran: Praktik Paedagogis, Lingkungan Pembelajaran, Pemanfaatan Digital, dan Kemitraan Pembelajaran.
  • Pengalaman Belajar: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
  • Prinsip Pembelajaran: Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.
  • Delapan Dimensi Profil Lulusan: Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, serta Komunikasi.



Murid Kelas 9 SMPN Satu Atap Cibulan Mengunjungi Mini Teater Edukatif Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan (Sumber: Sigid PN)

3 Prinsip Pembelajaran Deep Learning.

Menurut Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu'ti, terdapat 3 prinsip pembelajaran dalam pendekatan Deep Learning, yakni Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Prinsip belajar dengan Pendekatan Mendalam pada Naskah Akademik dijelaskan secara gamblang bahwasannya melalui proses Meaningful Learning murid dapat memaknai hal-hal yang sedang murid pelajari. Kemudian, melalui proses Mindful Learning, murid dapat menjadi agen aktif yang secara sadar berniat untuk mengembangkan pemahaman dan kompetensinya. Sedangkan melalui proses Joyful Learning membuat murid menjadi termotivasi dalam menjalani proses pembelajarannya. Mari kita bahas ketiga prinsip ini secara lebih mendalam.

Mari kita bahas ketiga prinsip ini secara lebih mendalam.

         1. Meaningful Learning.

Teori Meaningful Learning yang dicetuskan oleh David Ausubel menjelaskan proses pembelajaran dimana guru membantu siswa untuk mengaitkan konsep baru yang akan diajarkan dengan konsep-konsep yang sebelumnya sudah mereka pahami. Proses belajar Meaningful Learning ini bertujuan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi murid.

          2. Mindful Learning.

Mindful Learning seringkali dikenal sebagai metakognisi dalam teori pendidikan. Dalam Mindful Learning, murid diajak untuk senantiasa sadar akan proses pembelajaran yang sedang murid jalani. Kesadaran ini terdiri dari beberapa aspek, yaitu:

  • Kesadaran akan hal-hal yang sudah murid pahami atau kuasai sebelumnya.
  • Kesadaran akan hal-hal yang belum murid pahami atau kuasai.
  • Kesadaran akan pentingnya pemahaman atau penguasaan kompetensi dari apa yang murid sedang pelajari.
  • Kesadaran akan alur proses pembelajaran yang sedang murid jalani demi tercapainya pemahaman atau kompetensi yang ingin ia capai.
  • Kesadaran akan kemajuan pemahaman atau kompetensi setelah merefleksikan proses pembelajaran yang telah murid lewati.
  • Kesadaran akan hal-hal yang masih dapat dieksplorasi lebih lanjut dalam proses pembelajaran berikutnya.

Dengan demikian, murid dituntun untuk menjadi agen aktif yang bertanggung jawab atas proses pembelajarannya sendiri.

Berbeda dengan orang dewasa, kesadaran ini bukanlah sesuatu yang dapat timbul secara otomatis dalam diri anak-anak, sehingga guru harus terus-menerus menghidupkan kesadaran ini dari awal sampai akhir proses pembelajaran.

Misalnya, guru bisa membiasakan murid untuk selalu membuat kesimpulan pembelajaran sendiri di akhir sesi ajar dan merefleksikan perkembangan pemahaman atau kompetensinya. Melalui proses refleksi ini, murid dapat memahami kekuatan dan kelemahan mereka masing-masing, serta memiliki target yang lebih jelas untuk pembelajaran berikutnya.

         3. Joyful Learning.

Joyful Learning menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang positif agar murid dapat menikmati setiap bagian dari proses pembelajaran. Contohnya, pendekatan pembelajaran melalui permainan (game) atau aktivitas interaktif dapat membuat murid lebih antusias dalam belajar.

Hal tersebut sangat penting untuk mendorong anak-anak agar lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan menikmati pengalaman belajarnya. Terlebih lagi apabila Joyful Learning dipadukan dengan aspek Meaningful Learning dan Mindful Learning, murid akan dapat memiliki motivasi intrinsik dalam belajar dan akhirnya terdorong untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.


Murid Kelas 7 SMPN Satu Atap Cibulan Membuat Konten Kreatif Tema Stop Bullying di Sekolah (Sumber: Sigid PN)

Manfaat Penerapan Deep Learning dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah

Penerapan Deep Learning dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan tuntutan abad ke-21.

Melansir World Economic Forum, salah satu alasan kuat mengapa pendekatan ini diperlukan adalah karena relevansinya dengan kompetensi abad 21 atau 21st Century Skills, yang terbagi menjadi tiga poin besar, yaitu adalah Foundational Literacies, Competencies, dan Character Qualities.

         1. Foundational Literacies (Literasi Dasar).

Keterampilan literasi dasar merupakan skill yang dapat membantu murid untuk mengaplikasikan pengetahuan inti pada kehidupan sehari-hari. Pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran murid dapat membangun fondasi yang kuat dalam keterampilan ini, sehingga murid mampu menggunakan kemampuan dasarnya dalam situasi nyata.

Kemampuan ini mencakup beberapa poin sebagai berikut:

  • Literacy (Literasi). Dengan pendekatan Deep Learning, literasi murid tidak hanya dibatasi pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami makna di balik informasi yang diserap.
  • Numeracy (Kemampuan Numerik). Daripada hanya menghafal rumus, dengan Deep Learning, murid didorong untuk memahami konsep dasar, sehingga mereka dapat menerapkannya dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari.
  • Scientific Literacy (Literasi Sains). Deep Learning dapat membantu murid untuk mengaitkan konsep sains dengan kehidupan nyata dan menyelami proses penemuan ilmiah secara lebih mendalam.
  • ICT Literacy (Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dengan Deep Learning, murid dapat mempelajari cara mengelola informasi digital dengan lebih bijak, memahami etika penggunaan teknologi, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Financial Literacy (Literasi Keuangan). Melalui pendekatan Deep Learning, murid dapat memahami konsep dasar ekonomi, cara mengelola uang, dan memahami dampak dari setiap keputusan finansial yang mereka lakukan.
  • Cultural and Civic Literacy (Literasi Budaya dan Kewarganegaraan). Penerapan pendekatan Deep Learning memungkinkan murid memahami nilai budaya dan kewarganegaraan secara lebih mendalam, menghargai perbedaan budaya, serta memahami peran mereka sebagai warga negara yang aktif dan bertanggung jawab.

2. Competencies (Kompetensi).

Kompetensi mencakup cara murid menghadapi tantangan kompleks, yang meliputi keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Deep Learning mampu mendorong murid untuk memiliki pendekatan yang lebih mendalam dan analitis terhadap tantangan yang akan mereka hadapi di masa kini maupun masa mendatang.

Kompetensi ini mencakup beberapa poin, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Critical Thinking / Problem Solving (Berpikir Kritis / Pemecahan Masalah). Pendekatan Deep Learning mengajarkan murid untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi yang inovatif.
  • Creativity (Kreativitas). Dalam pendekatan Deep Learning, murid didorong untuk bereksperimen, menghubungkan ide-ide, dan menghasilkan pemikiran yang original.
  • Communication (Komunikasi). Pendekatan Deep Learning memungkinkan murid-murid untuk berkomunikasi secara lebih efektif dengan membiasakan mereka berbicara, mendengar, dan memberikan umpan balik positif dalam proses pembelajaran.
  • Collaboration (Kolaborasi). Deep Learning akan mendorong murid untuk belajar bekerja sama dalam tim, menghargai kontribusi rekan satu tim, dan mengembangkan empati.

3. Character Qualities (Kualitas Karakter).

  • Deep Learning sangat membantu murid untuk membentuk kualitas karakter yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah. Kualitas karakter ini mencakup beberapa poin sebagai berikut:
  • Curiosity (Rasa Ingin Tahu). Deep Learning akan membiasakan murid untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dengan cara mengajak mereka menggali informasi dan bertanya secara lebih mendalam terkait suatu topik.
  • Initiative (Inisiatif). Dengan pendekatan Deep Learning, murid akan dilatih untuk proaktif dan inisiatif dalam mencari jawaban dan solusi.
  • Persistence / Grit (Ketekunan). Pendekatan Deep Learning membiasakan murid untuk bekerja keras, terus mencoba, tidak mudah menyerah, dan mampu memecahkan masalah hingga tuntas, sehingga dapat mengembangkan ketekunan dalam mencapai tujuan.
  • Adaptability (Kemampuan Beradaptasi). Deep Learning mampu mendorong murid untuk terbiasa dengan adanya perubahan, baik dalam proses belajar maupun dalam kehidupan mereka, sehingga mereka lebih fleksibel dalam menghadapi situasi baru.
  • Leadership (Kepemimpinan). Pada pembelajaran berbasis kelompok dalam Deep Learning dapat memberikan kesempatan bagi murid untuk memimpin dan mengambil tanggung jawab.
  • Social and Cultural Awareness (Kesadaran Sosial dan Budaya). Deep Learning dapat memfasilitasi murid untuk membangun kesadaran sosial dan budaya yang kuat, serta menghargai keragaman dan perbedaan sebagai sesuatu yang bisa memperkaya pengalaman belajar mereka.

Dengan diterapkannya pendekatan Deep Learning di kelas, murid dapat berkembang menjadi individu yang lebih kritis, memiliki pemahaman mendalam, dan mampu berpikir reflektif. Manfaat pendekatan Deep Learning antara lain yaitu:

  • Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Murid dapat belajar untuk menilai informasi secara kritis dan mengidentifikasi solusi berdasarkan data dan fakta.
  • Kontekstualisasi pengetahuan. Murid mampu menghubungkan pengetahuan teoritis dengan penerapan di kehidupan nyata mereka. Misalnya murid dapat memahami prinsip-prinsip dalam pelajaran Pendidikan Pancasila sehingga mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.
  • Pembelajaran mandiri dan kolaboratif. Murid dapat mengembangkan rasa percaya diri murid dan keterampilan komunikasi melalui metode diskusi kelompok, eksperimen, atau proyek penelitian.

Setelah saya memahami tentang pembelajaran dengan pendekatan Deep Learning ini, kemudian saya mulai merancang strategi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid-murid di kelas, karena kondisi murid-murid yang berbeda serta memiliki keunikannya tersendiri.

Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Deep Learning di Kelas 8 Pada Bab Melestarikan Budaya Bangsaku, Sub Bab Pelestarian Tradisi, Kearifan Lokal dan Budaya Nasional.

Latar belakang permasalahan pembelajaran yang saya alami yaitu rendahnya motivasi belajar pada beberapa murid kelas 8, terlihat mereka tidak fokusdalam belajar, mudah menyerah ketika diberikan tugas, dan pengerjaan soal yang asal-asalan.

Oleh karena itu, dalam pendekatan belajar yang digunakan harus dapat mengatasi kesulitan belajar murid, tentunya berkaitan dengan interaksi, suasana belajar, landasan belajar, lingkungan belajar, perancangan pengajaran serta penyampaian materi pelajaran.

Pada praktiknya, saya membagi kegiatan belajar mengajar menjadi beberapa tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, umpan balik, refleksi, evaluasi, dan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Tahapan aksi yang pertama saya lakukan dalam persiapan pembelajaran yaitu adalah:

  • Melakukan asesmen awal pembelajaran.

Asesmen awal pembelajaran bertujuan agar saya dapat melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tiga aspek, yaitu mengetahui kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid melalui wawancara serta melakukan survey di kelas menggunakan angket, merencanakan strategi pembelajaran berdasarkan hasil pemetaan dengan memberikan berbagai pilihan cara belajar, kemudian dilanjutkan dengan mengevaluasi dan merefleksikan pembelajaran yang sudah berlangsung.


Murid Kelas 8 SMPN Satu Atap Cibulan Mempraktikkan Permainan Khas Daerah Sebagai Kekayaan Budaya Lokal (Sumber: Sigid PN)

  • Merancang pendekatan Pembelajaran Mendalam.

Dalam kegiatan belajar, saya mengajak murid-murid untuk praktik permainan engklekan khas daerah lokal. Murid-murid secara bergotong royong mempersiapkan peralatan yang digunakan dalam permainan tersebut. Selain itu, saya melibatkan murid dalam diskusi kelompok, dan proyek kolaboratif yang memungkinkan mereka saling berbagi pengetahuan dan perspektif. Proses diskusi dalam kelompok juga sangat memungkinkan murid untuk mengembangkan keterampilan komunikasi juga keterampilan sosial. Memanfaatkan berbagai ragam sumber belajar serta media ajar juga akan menjadi faktor pendukung pembelajaran yang aktif mendalam, bermakna, dan menyenangkan.

  • Memilih Model dan Metode pembelajaran yang berpusat pada murid.

Pada jenjang SMP, pembelajaran yang berpusat pada murid dapat diterapkan melalui pembelajaran berbasis proyek (Projet Based Learning), CTL, STEM, Pembelajaran konstruktivisme, pendekatan saintific, LOTS, HOTS. Inquiry, discovery, studi kasus, praktik, eksperimen, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, demonstrasi, simulasi, diskusi, ceramah, tanya jawab, dan lainnya. Sedangkan media pembelajaran yang digunakan antara lain artikel, berita, dokumen, gambar, video, model, atau benda-benda yang relevan dengan materi yang sedang dipelajari.

Selanjutnya pada proses pembelajaran di kelas, saya menggunakan peralatan TIK yang dimiliki sekolah seperti Laptop, Chromebook, akun belajar.id, dan aplikasi-aplikasi yang dapat di untuk mendukung pembelajaran seperti Canva untuk membuat presentasi visual, Wordwall, Google Sites, Padlet, dan Mentimeter.

Di akhir pembelajaran saya meminta umpan balik dari murid tentang bagaimana perasaan dan pengalaman belajar mereka. Setelah itu kemudian saya merefleksikan serta mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran di kelas yang sudah berlangsung. Dari hasil refleksi dan evaluasi, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan diterapkannya pendekatan Deep Learning di kelas, murid dapat berkembang menjadi individu yang lebih kritis, memiliki pemahaman mendalam, dan mampu berpikir reflektif.

Berikut dampak yang dirasakan dari penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila Bab Melestarikan Budaya Bangsaku, Sub Bab Pelestarian Tradisi, Kearifan Lokal, dan Budaya Nasional di kelas 8 SMPN Satu Atap Cibulan.

  • Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Murid dapat belajar untuk menilai informasi secara kritis dan mengidentifikasi solusi berdasarkan data dan fakta.
  • Kontekstualisasi pengetahuan. Murid mampu menghubungkan pengetahuan teoritis dengan penerapan di kehidupan nyata mereka. Misalnya murid dapat memahami prinsip-prinsip dalam pelajaran Pendidikan Pancasila sehingga mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.
  • Pembelajaran mandiri dan kolaboratif. Murid dapat mengembangkan rasa percaya diri murid dan keterampilan komunikasi melalui metode diskusi kelompok, eksperimen, atau proyek penelitian.
  • Murid mengalami peningkatan pada motivasi belajarnya, termasuk mengalami peningkatan keterampilan hard skill dan softskill, murid mampu merefleksikan diri dalam belajar, murid juga merasa senang, merasa sangat dilibatkan dalam proses pembelajaran, serta murid merasa kebutuhan belajarnya terfasilitasi, dan terlayani dengan baik.

    Penerapan Deep Learning meningkatkan keterampilan murid untuk berpikir secara mendalam dan terstruktur. Murid dapat meneliti fakta dan ide baru secara kritis serta mengaitkannya ke struktur kognitif serta membuat banyak kaitan antara ide yang ada.

    Selain itu, murid juga dapat fokus mencari konsep dalam memecahkan masalah, aktif berinteraksi, menggabungkan berbagai modul belajar, memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, terlibat secara mental, serta murid dapat mengarahkan ilmu dan mengambil hal yang dipelajari untuk diterapkan dalam kehidupan nyata.

    Sedangkan dampak bagi sekolah adalah peningkatan kompetensi guru yang kemudian mempermudah ketercapaian visi misi sekolah, serta peningkatan mutu dan layanan pendidikan.

    Ada Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang telah saya susun sebagai langkah selanjutnya agar supaya penerapan pendekatan Deep Learning ini dapat terus berjalan dengan baik, konsisten dan berkelanjutan. Rencana Tindak Lanjut tersebut yaitu adalah:

  • Komunikasi serta Kolaborasi dengan Kepala Sekolah, Rekan Sejawat, dan Murid. Guru perlu melakukan komunikasi dan kolaborasi dengan seluruh warga sekolah, baik itu dengan meminta saran serta masukan dari Kepala Sekolah, saling mengadakan observasi kelas dengan rekan sejawat, serta berkomunikasi dengan murid untuk mengetahui dan mengakmodir kebutuhan belajarnya.

  • Kolaborasi dengan Orang Tua/Wali Murid Sebagai Guru Tamu. Salah satu bentuk kolaborasi yaitu dengan mengundang orang tua/wali murid untuk menjadi guru tamu di kelas, dengan cara tersebut proses pembelajaran menjadi lebih bervariasi.

  • Tips dari saya, guru sebaiknya melakukan asesmen awal pembelajaran agar dapat memetakan gaya belajar serta kebutuhan belajar murid, merancang strategi pembelajaran yang berpihak pada murid, dan kemudian aplikasikan di kelas dengan baik. Lakukanlah refleksi dan evaluasi proses pembelajaran yang sudah berlangsung, kemudian perbaiki kelemahannya.

    Guru perlu berlatih agar tidak hanya sebagai pemberi informasi, akan tetapi guru mampu berperan sebagai fasilitator, mentor, desainer pembelajaran, dan pemicu rasa ingin tahu yang dapat mendukung eksplorasi serta analisis murid.

    Keterampilan yang dibutuhkan antara lain yaitu adalah keterampilan bertanya serta mendengarkan aktif, keterampilan memberikan umpan balik yang dapat memberdayakan, keterampilan membimbing refleksi, manajemen kelas, dan keterampilan memahami tingkat perkembangan murid. Demikian, semoga tulisan ini dapat menginspirasi.

 Artikel ini pernah tayang di:

https://www.kompasiana.com/sigidpn/67ac566034777c270f466cc2/mengenal-pendekatan-deep-learning-dalam-pembelajaran

Senin, 19 Agustus 2024

Menyebarkan Pemahaman dan Penerapan Budaya Positif

 


Poto Dokpri Sigid PN-SMPN Satu Atap Cibulan


Kebutuhan Dasar Manusia.

Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan penguasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat satu persatu kelima kebutuhan dasar ini.

1. Kebutuhan Bertahan Hidup.

Kebutuhan bertahan hidup (survival) adalah kebutuhan yang bersifat fisiologis untuk bertahan hidup misalnya kesehatan, rumah, dan makanan. Kebutuhan biologis sebagai bagian dari proses reproduksi termasuk kebutuhan untuk tetap bertahan hidup. Komponen psikologis pada kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan perasaan aman. 

2. Kasih sayang dan Rasa Diterima (Kebutuhan untuk Diterima).

Kebutuhan ini dan tiga kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan psikologis. Kebutuhan untuk disayangi dan diterima meliputi kebutuhan akan hubungan dan koneksi sosial, kebutuhan untuk memberi dan menerima kasih sayang dan kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan ini juga meliputi keinginan untuk tetap terhubung dengan orang lain, seperti teman, keluarga, pasangan hidup, teman kerja, binatang peliharaan, dan kelompok dimana kita tergabung.

Anak-anak yang memiliki kebutuhan dasar kasih sayang dan rasa diterima yang tinggi biasanya ingin disukai dan diterima oleh lingkungannya. Mereka juga akrab dengan orang tuanya. Biasanya mereka belajar karena suka pada gurunya. Bagi mereka, teman sebaya sangatlah penting. Mereka juga biasanya suka bekerja dalam kelompok.

Poto Dokpri Sigid PN-SMPN Satu Atap Cibulan

 

3. Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan).

Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, diakui atas prestasi dan keterampilan kita, didengarkan dan memiliki rasa harga diri. Kebutuhan ini meliputi keinginan untuk dianggap berharga, bisa membuat perbedaan, bisa membuat pencapaian, kompeten, diakui, dihormati. Ini meliputi self esteem, dan keinginan untuk meninggalkan pengaruh. Anak-anak yang memiliki kebutuhan dasar akan penguasaan yang tinggi biasanya selalu ingin menjadi pemimpin, mereka juga suka mengamati sebelum mencoba hal baru dan merasa kecewa bila melakukan kesalahan. Mereka juga biasanya rapi dan sistematik dan selalu ingin mencapai yang terbaik.

4. Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilihan).

Kebutuhan untuk bebas adalah kebutuhan akan kemandirian, otonomi, memiliki pilihan dan mampu mengendalikan arah hidup seseorang. Anak-anak dengan kebutuhan kebebasan yang tinggi menginginkan pilihan, mereka perlu banyak bergerak, suka mencoba-coba, tidak terlalu terpengaruh orang lain dan senang mencoba hal baru dan menarik.

5. Kesenangan (Kebutuhan untuk merasa senang).

Kebutuhan akan kesenangan adalah kebutuhan untuk mencari kesenangan, bermain, dan tertawa. Bayangkan hidup tanpa kenikmatan apa pun, betapa menyedihkan. Glasser menghubungkan kebutuhan akan kesenangan dengan belajar. Semua hewan dengan tingkat intelegensi tinggi (anjing, lumba-lumba, primata, dll) bermain. Saat mereka bermain, mereka mempelajari keterampilan hidup yang penting. Manusia tidak berbeda. Anak-anak dengan kebutuhan dasar kesenangan yang tinggi biasanya ingin menikmati apa yang dilakukan. Mereka juga bisa berkonsentrasi tinggi saat mengerjakan hal yang disenangi. Mereka suka permainan dan suka mengoleksi barang, suka bergurau, suka melucu dan juga menggemaskan. Bahkan saat mereka bertingkah laku buruk, mereka masih terlihat lucu.

Lima Posisi Kontrol dalam Penerapan Disiplin.

Berbicara tentang penerapan disiplin disekolah, rasanya kita perlu melakukan refleksi, evaluasi dan merenungi apa yang disampaikan oleh Diane Gossen yang menyatakan dalam bukunya yang berjudul Restitution Restructuring School Discipline (1998) bahwa selama ini guru-guru perlu meninjau kembali dan berintrospeksi diri bagaimana penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas mereka selama ini.

Apakah yang dilakukan selama ini telah efektif, memerdekakan, dan memandirikan serta berpusat pada murid? Atau justru hasilnya malah negatif, perubahan sikap yang diharapkan jauh dari yang diharapkan, peserta didik dan orang tua yang menitipkan anaknya kepada kita tidak menerima perlakuan yang diberikan, yang muncul malah resistensi, kebencian, kemarahan bahkan serangan terhadap para guru

Atas dasar peristiwa tersebut, di bawah ini merupakan paparan tentang 5 posisi kontrol Diane Gossen dalam penerapan disiplin di sekolah, semoga dengan paparan ini bisa menjadi introspeksi diri yang dilanjutkan perbaikan langkah penerapan disiplin dengan segitiga Restitusi.

Melalui serangkaian riset yang didasarkan teori Kontrol DL William Glasser, Diane Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang umum dan biasa diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol serta penerapan disiplin disekolah.

Kelima posisi kontrol tersebut adalah; Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Berikut ini uraian 5 Posisi kontrol dalam menerapkan disiplin di sekolah.

1. Penghukum.

Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi.

Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata:

  • "Patuhi aturan saya, atau awas kamu akan dihukum berdiri di lapangan sekolah”.
  • "Kamu selalu saja salah”!
  • "Selalu, kamu pasti selalu yang terakhir selesai”!

Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara yang dia terapkan.

2. Pembuat Merasa Bersalah.

Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri.

Contoh kata-kata yang keluar dengan lembut seperti:

  • "lbu sangat kecewa sekali dengan kamu”>
  • "Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya”?
  • "Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini”?

Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.

3. Teman.

Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid.

Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang, mereka akan berkata:

  • "Ayo bantulah, demi Bapak ya”?
  • "Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini”?
  • "Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti lbu bantu bereskan”.

Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, "Saya pikir bapak/lbu teman saya". Maka murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha. Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut.

4. Pemantau.

Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggungjawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi.

Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau:

  • "Apa yang telah kamu lakukan”?
  • "Kamu tahu kan sanksi atau konsekuensinya dari perbuatan kamu apa”?

Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek.

Posisi pemantau sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid.

5. Manajer.

Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

Seorang Manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.

Guru dalam posisi Manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang Iain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.

Seorang Manajer akan berkata ;

  • "Apa yang kita Yakini”? (kembali ke keyakinan kelas)
  • "Apakah kamu meyakininya”?
  • "Jika kamu meyakininya, apakah kamu bersedia memperbaikinya”?
  • "Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu”?
  • "Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini”?

Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat.

Perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.

Poto Dokpri Sigid PN-SMPN Satu Atap Cibulan

Restitusi Menanamkan Disiplin positif Pada Murid.

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.

Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menangmenang.

Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang. Ketika guru memecahkan masalah perilaku mereka, murid akan kehilangan kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang berharga untuk hidup mereka.

Di bawah ini adalah ciri-ciri restitusi yang membedakannya dengan program disiplin lainnya:

1. Restitusi bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan.

Dalam restitusi, ketika murid berbuat salah, guru tidak mengarahkan untuk menebus kesalahan dengan membayar sejumlah uang, memperbaiki kerugian yang timbul, atau sekedar meminta maaf. Karena kalau fokusnya kesana, maka murid yang berbuat salah akan fokus pada tindakan untuk menebus kesalahan dan menghindari ketidaknyamanan, yang bersifat eksternal, bukannya pada upaya perbaikan diri, yang lebih bersifat internal. Biasanya setelah menebus kesalahan, orang yang berbuat salah akan merasa sudah selesai dengan situasi itu sehingga merasa lega, dan seolah-olah kesalahan tidak pernah terjadi.

Restitusi sebenarnya juga meliputi usaha untuk menebus kesalahan, tetapi sebaiknya merupakan inisiatif dari murid yang melakukan kesalahan. Proses pemulihan akan terjadi bila ada keinginan dari murid yang berbuat salah untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan rasa penyesalannya. Fokusnya tidak hanya pada mengurangi kerugian pada korban, tapi juga bagaimana menjadi orang yang lebih baik dan melakukan hal baik pada orang lain dengan kebaikan yang ada dalam diri kita. Ketika murid belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik untuk masa depan, mereka akan mendapatkan pelajaran yang mereka bisa pakai terus menerus di masa depan untuk menjadi orang yang lebih baik.

2. Restitusi memperbaiki hubungan.

Restitusi adalah tentang memperbaiki hubungan dan memperkuatnya. Restitusi juga membantu murid-murid dalam hal mereka ingin menjadi orang seperti apa dan bagaimana mereka ingin diperlakukan. Restitusi adalah proses refleksi dan pemulihan. Proses ini menciptakan kondisi yang aman bagi murid untuk menjadi jujur pada diri mereka sendiri dan mengevaluasi dampak dari tindakan mereka pada orang lain. Ketika proses pemulihan dan evaluasi diri telah selesai, mereka bisa mulai berpikir tentang apa yang bisa dilakukan untuk menebus kesalahan mereka pada orang yang menjadi korban.

3. Restitusi adalah tawaran, bukan paksaan.

Restitusi yang dipaksa bukanlah restitusi yang sebenarnya, tapi konsekuensi. Bila guru memaksa proses restitusi, maka murid akan bertanya, apa yang akan terjadi kalau saya tidak melakukannya. Memaksa melakukan restitusi bertentangan dengan perkembangan moral, yaitu kebebasan untuk membuat pilihan. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menciptakan kondisi yang membuat murid bersedia menyelesaikan masalah dan berbuat lebih baik lagi, dengan berkata, “Tidak apa-apa kok berbuat salah itu manusiawi. Semua orang pasti pernah berbuat salah”. Pembicaraan ini bersifat tawaran, bukan paksaan, bukan mengatakan.

Poto Dokpri Sigid PN-SMPN Satu Atap Cibulan

4. Restitusi menuntun untuk melihat ke dalam diri.

Dalam proses restitusi kita akan melihat adanya ketidakselarasan antara tindakan murid yang berbuat salah dan keyakinan mereka tentang orang seperti apa yang mereka inginkan. Kita tidak ingin menciptakan rasa bersalah pada diri anak. Ketika murid sudah dibimbing untuk mengeksplorasi orang seperti apa yang mereka inginkan, guru bisa mulai bertanya tentang kejadiannya, seberapa sering hal ini terjadi, apa yang ia lakukan, ia berada di mana. Murid tidak akan berbohong pada guru.

5. Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan.

Untuk berpindah dari evaluasi diri ke restitusi diri, penting bagi murid untuk memahami dampak dari tindakannya pada orang lain. Kalau murid paham bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dasar untuk dipenuhi, hal ini akan sangat membantu, sehingga ketika murid melakukan kesalahan, mereka akan menyadari kebutuhan apa yang sedang mereka coba penuhi, demikian juga kebutuhan orang lain.

Untuk membantu murid mengenali kebutuhan dasarnya, guru bisa meminta mereka mengenali perasaan mereka. Perasaan sedih dan kesepian menunjukkan adanya kebutuhan cinta dan kasih sayang yang tidak terpenuhi. Perasaan dipaksa, atau terlalu banyak beban, menunjukkan kurangnya kebutuhan akan kebebasan. Perasaan takut akan kelelahan, kelaparan, menunjukkan pada kita kalau kita merasa tidak aman. Perasaan bosan menunjukkan kurang terpenuhinya kebutuhan akan kesenangan.

6. Restitusi diri adalah cara yang paling baik.

Dalam restitusi diri murid belajar untuk mengubah kebiasaan dari kecenderungan untuk mengomentari orang lain, menjadi mengomentari diri sendiri. Dr. William Glasser menyatakan, orang yang bahagia akan mengevaluasi diri sendiri, orang yang tidak bahagia akan mengevaluasi orang lain.

7. Restitusi fokus pada solusi.

Dalam restitusi, guru menstabilkan identitas murid dengan mengatakan, “Kita tidak fokus pada kesalahan, Bapak/ibu tidak tertarik untuk mencari siapa yang benar, siapa yang salah.

8. Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya.

Ketika anak berbuat salah, kita tidak bisa memotivasi anak untuk menjadi baik, kita hanya bisa menciptakan kondisi agar mereka bisa melihat ke dalam diri mereka. Kita seharusnya mengajari mereka untuk menyelesaikan masalah mereka, dan berusaha mengembalikan mereka ke kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat.


Sumber: Modul 1.4 Budaya Positif Pendidikan Guru Penggerak Tahun 2024



Senin, 22 April 2024

Opening Ceremony Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang 31

 

Poto Dok. Sigid PN


Tidak terasa Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI sudah memasuki Gelombang 31. Untuk acara Opening Ceremony KBMN PGRI dilaksanakan pada hari Minggu, 21 April 2024 dan kelas/pertemuan pertama dilaksanakan esok harinya yaitu Senin, 22 April 2024. Pada Opening Ceremony tersebut, saya yang diberikan amanah oleh Tim Solid Om Jay/Fasilitator KBMN PGRI menjadi Ketua Pelaksana KBMN PGRI Gelombang 31 diberikan kesempatan oleh Panitia untuk memberikan sambutan. Supaya ada jejak literasi, maka apa yang saya sampaikan dalam Opening Ceremony tersebut saya tuliskan juga di blogg yang sudah hampir menjadi sarang "laba-laba", begitu candaan Om Jay kalau tahu blogg teman-teman TSO jarang atau tidak terjamah dalam kurun waktu yang lama. Nah, di bawah ini adalah point yang saya sampaikan saat acara Opening Ceremony KBMN PGRI Gelombang 31.

Ijin memperkenalkan diri, saya Sigid Purwo Nugroho, alumni KBM PGRI Gelombang 23 dan Ketua Pelaksana KBMN PGRI Gelombang 31. Bapak/ibu guru, pada dasarnya pendidikan bergerak secara dinamis menyesuaikan dengan keadaan yang terus bertransformasi begitu cepat. Kita sebagai guru harus dapat mengantisipasi serta membaca arah perubahan tersebut, termasuk dalam menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai amanah Undang-Undang.

Oleh karena itu, guru harus konsisten menjaga komitmen untuk selalu menjadi pembelajar sepanjang hayat agar tetap dapat memiliki kompetensi yang kekinian, dapat beradaptasi dengan kemajuan jaman, perubahan kurikulum, dan kemajuan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran. Menurut saya, peran guru di kelas memang tidak akan pernah dapat tergantikan oleh teknologi, tetapi guru yang tidak memahami teknologi maka lambat laun dia akan ditinggalkan oleh murid-muridnya.


Poto Dok. Sigid PN

Disamping itu pemerintah dalam hal ini Kemendikbud Ristek sedang terus berupaya untuk meningkatkan literasi peserta didik. Literasi tidak hanya identik dengan kegiatan membaca, tetapi juga menulis, berbicara, dan menyimak atau mendengarkan. Nah, ketika dulu saya menerima informasi terkait dibukanya kelas menulis PGRI Gelombang 23, saya sangat antusias sekali. Saya ingin belajar dan mendalami tentang menulis, kemudian saya ingin mengaplikasikannya di sekolah dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah melalui literasi.

Kemudian saya bergabung di WA grup Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 23. Saya sadar apabila saya hanya menyimak saja obrolan grup, maka saya tidak akan mendapatkan apa-apa, jangankan wawasan, pertemanan pun tidak akan saya dapati. Oleh karena itu, saya selalu menyimak materi dan berupaya menjadi yang pertama mengirimkan tugas resume digrup agar segera mendapatkan umpan balik dari Narasumber maupun Moderator untuk kemudian saya refleksikan serta saya perbaiki. Setelah beberapa pertemuan saya lewati, akhirnya saya dipilih oleh TSO dan teman-teman peserta untuk menjadi Ketua Kelas.


Poto Dok. Sigid PN

Melalui Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 23 terbitlah buku perdana saya yang berjudul “Guru Motivator Literasi Digital”. Saya sangat senang sekali ketika saya diberikan kesempatan untuk bergabung di TSO hingga saat ini. Sebelumnya saya hanya menulis di beberapa surat kabar cetak dan online, tapi setelah mengikuti Kelas Belajar Menulis PGRI saya tertarik untuk berkarya melalui buku, baik itu buku solo maupun buku antologi. Ada 6 karya buku antologi yang saya kuratori sendiri berkolaborasi dengan bunda Kanjeng, diantaranya Suka Duka Menuju ASN, Guru Bijak Wujudkan Merdeka Belajar, Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Di Kelas, serta Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Di Sekolah. Kini saya kembali sedang menyelesaikan pembuatan buku antologi bertema pembelajaran berdiferensiasi dan ingin menuntaskan pembuatan buku solo yang naskahnya hampir satu tahun tersimpan di laptop.

Mungkin hanya itu yang dapat sampaikan, mohon maaf bila banyak kekurangan, tidak ada niat untuk menggurui tetapi murni untuk berbagi. Tetap semangat dan konsisten untuk belajar sepanjang hayat. Tergerak, bergerak, dan menggerakkan demi perkembangan literasi di Indonesia. Semoga menginspirasi, dan salam literasi. 


Jumat, 15 Maret 2024

Don't Bully Be A Friend

 


Poto Dok Sigid PN

Kondisi lingkungan satuan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan menjadi harapan dari semua warga sekolah, termasuk guru dan murid-murid. Dari Kondisi tersebut tentu saja dapat berdampak pada peningkatan motivasi serta hasil belajar murid. Tapi apakah bisa satuan pendidikan menciptakan suasana tersebut, sementara kasus kekerasan seperti perundungan terhadap sesama murid yang terjadi di satuan pendidikan maupun antar satuan pendidikan sering kita tonton di layar televisi. Mungkin saja terjadi kasus-kasus perundungan yang tidak terekspose media, atau bahkan kita sendiri sebagai seorang guru pernah menyaksikan terjadinya perundungan di sekolah. Nah, bagaimana caranya menciptakan kondisi lingkungan satuan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan? Apakah dibutuhkan peran serta dari seluruh warga sekolah? Melalui buku antologi ini, saya ingin berbagi praktik baik tentang mencegah terjadinya kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.

Saya bertugas sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMPN Satu Atap Cibulan yang beralamat di Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Pada pertengahan semester ganjil tahun pelajaran 2023/2024 saya dihadapkan dengan permasalahan terkait kurangnya motivasi belajar salah satu murid kelas 7 pada kegiatan pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas. Ketika di luar kelas pun, saya perhatikan terkadang murid tersebut jarang berinteraksi dengan rekan-rekannya, dia lebih suka menyendiri. Di lain waktu ketika jam istirahat, saya mendapati antar murid-murid kelas 7 saling ejek, mereka memanggil sesama rekannya dengan panggilan nama orang tua. Didorong naluri seorang guru, saya mencoba menghampiri mereka. Saya menanyakan dasar perbuatan mereka dengan memanggil rekan-rekannya menggunakan nama orang tua. Menurut mereka perbuatannya hanya iseng dan bercanda. Rupanya mereka belum sadar atau belum memahami bahwa perbuatannya termasuk ke dalam jenis perundungan, kemudian saya menasihati mereka agar tidak kembali melakukan perbuatan tersebut.

Pada jam istirahat, bertempat di ruang guru, saya menceritakan kembali kejadian perundungan di sekolah yang sudah saya saksikan sendiri. Ternyata rekan-rekan guru mata pelajaran lain juga pernah mendapati perbuatan atau kejadian yang serupa, baik itu di kelas 7, kelas 8, dan kelas 9. Kami menganggap hal tersebut perlu segera diatasi, serta dicarikan solusinya. Bagaimanapun upaya untuk mencegah dan menangani terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah harus tetap menjadi salah satu prioritas yang membuthkan kolaborasi dari seluruh warga sekolah. Menurut saya, untuk mencegah serta menangani kekerasan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan, guru perlu menyusun strategi pembelajaran yang tepat, berpusat pada murid dan dapat menumbuhkan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Saya menyampaikan pendapat tersebut kepada rekan-rekan guru, bahwasannya terdapat beberapa solusi yang tepat dan layak untuk diterapkan pada kegiatan pembelajaran dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Solusi pertama, yaitu menerapkan disiplin positif pada seluruh murid dari kelas 7, kelas 8, dan kelas 9. Ketika murid berperilaku tidak tepat, ada kemungkinan guru merespon kejadian tersebut dengan memberikan hukuman dengan berbagai hukuman yang pernah dialami pada masa lalu, menasihati, menceramahi, memarahi, atau bahkan membiarkan perilaku tidak tepat tersebut untuk terus dilanjutkan. Konsep disiplin positif adalah pendisiplinan tanpa ada pengawasan, dan dibangun atas dasar kesadaran dari dalam diri sendiri. Dengan kata lain, disiplin positif adalah pendekatan yang memampukan seseorang khususnya anak untuk mengontrol perilakunya dengan kesadaran, bertanggung jawab atas tindakannya dengan tetap menghormati diri sendiri dan orang lain dalam upaya untuk menumbuhkembangkan perilaku positif sepanjang hidup.

Upaya lain untuk mencegah terjadinya kekerasan di sekolah dalam bentuk strategi pembelajaran yaitu memilih tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang sesuai kebutuhan belajar murid, karakteristik dan kondisi lingkungan satuan pendidikan. Hal ini saya komunikasikan dengan Kepala Sekolah beserta seluruh rekan-rekan guru dan fasilitator projek melalui forum rapat rutin serta evaluasi pembelajaran. Dengan memperhatikan raport pendidikan, mempertimbangkan karakteristik dan kondisi  lingkungan sekolah, mempertimbangkan saran dari seluruh warga sekolah, serta memperhatikan kebutuhan belajar murid dan sebagai Implementasi Kurikulum Merdeka, maka dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila kelas 7/fase D di pertengahan semester ganjil tahun pelajaran 2023-2024 disepakati memilih tema “Bangun Jiwa dan Raga”, dengan topik Don’t Bully, Be A Friend, dimensi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, gotong royong, bernalar kritis dan kreatif.

Dengan teknik diskusi, presentasi, bermain peran, membuat konten kreatif untuk mengkampanyekan stop perundungan kemudian diunggah di media sosial seluruh murid,  dan menghasilkan produk film pada pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, murid-murid akan memiliki kesempatan (dalam keadaan yang tidak tegang) untuk dapat menceritakan pengalaman terkait perundungan yang pernah dialami, didengar, atau dilihat. Sehingga murid-murid akan berani mengeluarkan pendapat terhadap isu perundungan yang terjadi di sekolah. Pada langkah pertama pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, guru/fasilitator projek melakukan sosialisasi isu perundungan di sekolah dengan mengajak murid-murid berdiskusi bersama terkait jenis-jenis perundungan, peran mereka, dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah perundungan di sekolah. Guru sebagai fasilitator projek memberikan pertanyaan pemantik untuk membantu murid menyampaikan pendapatnya terhadap isu perundungan yang pernah terjadi di sekolah. Guru/fasilitator projek juga melibatkan seluruh murid dalam diskusi kelompok terkait isu perundungan, dan mengajak murid berpikir kritis serta terbuka bahwa pihak sekolah siap membantu memberikan pendampingan serta menyelesaikan kasus perundungan yang terjadi di sekolah jika murid berani melaporkan, pihak sekolah juga selalu menyediakan ruang layanan BP/BK atau ruang khusus yang nyaman bagi korban perundungan. Langkah selanjutnya guru/fasilitator projek membimbing murid untuk membuat konten di sekolah dengan tema stop perundungan lalu mengunggahnya di sosial media yang dimiliki murid-murid. Setelah itu, guru membimbing serta mengarahkan murid dalam pembuatan film pendek berjudul “Aku Juga Ingin Bahagia”. Film ini berhasil kami selesaikan walaupun dengan peralatan yang seadanya, kemudian film tersebut saya unggah ke channel YouTube resmi sekolah @smpnsatapcibulan8679 https://youtu.be/TujMu8pXbJ0?si=hBbUaf4nxEOVU_N2.

Poto Dok Film Don't Bully Be A Friend

Sebagai langkah terakhir, guru/fasilitator proek mengajak seluruh murid berefleksi dengan menyimpulkan apa yang sudah mereka pelajari, apa yang mereka rasakan, dan apa yang harus mereka lakukan nantinya ketika terjadi perundungan di sekolah. Kegiatan refleksi ini dilakukan dengan menulis atau berbicara langsung berdasarkan pertanyaan yang diberikan.

Saya beserta guru/fasilitator projek lainnya sangat terkesan dengan perhatian dan antusias yang ditunjukkan murid-murid dalam menyelesaikan seluruh aktivitas ini. Apalagi saat murid diarahkan untuk memposting kegiatan projek di sosial media, termasuk pada saat pembuatan film pendek yang berdurasi 30 menit. Dari kegiatan disiplin positif dan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ini sangat berdampak baik pada murid, yaitu murid menjadi lebih terbuka, lebih percaya diri, dapat berpikir kritis, dan dapat menunjukan perilaku positif, sehingga berdampak pula bagi sekolah dengan dapat terwujudnya kondisi lingkungan satuan pendidikan yang aman, nyaman, serta bebas dari kekerasan.

Pelaksanaan pengembangan disiplin positif dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tersebut berbarengan dengan kegiatan PIMDA NYAWAH yang selenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan berkolaborasi dengan jajaran MUSPIDA berlangsung sejak 11 Oktober Tahun 2023. Pada 24 Januari 2024 PIMDA NYAWAH sudah memasuki episode 10. Kegiatan ini berfokus pada sosialisasi serta kolaborasi dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan, dilaksanakan melalui daring serta luring, dan diikuti oleh seluruh jenjang sekolah yang ada di wilayah Kabupaten Kuningan, termasuk diantaranya SMPN Satu Atap Cibulan. Kepala Sekolah, guru, staf Tata Usaha dan seluruh murid-murid SMPN Satu Atap Cibulan mengikuti rangkaian kegiatan tersebut melalui zoom. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan Bapak U. Kusmana, S.Sos., M.Si memberikan pengarahan agar supaya setiap satuan pendidikan di lingkungan Kabupaten Kuningan membentuk Tim Penanganan dan Pencegahan Kekerasan (TPPK) sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2023 tentang Penanganan dan Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Selain kegiatan PIMDA NYAWAH, Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan juga mengadakan program Gerakan Membangun Kebersamaan yang Agamis dan Harmonis atau disebut juga dengan “Gerbang Berkah”. Kepala Sekolah, rekan-rekan guru, komite sekolah, murid, hingga orang tua/wali sangat mendukung serta mengapresiasi program-program yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan.

Saat ini pada awal semester genap tahun pelajaran 2023-2024, saya baru saja menyelesaikan pelatihan mandiri yang tersedia dalam Platform Merdeka Mengajar. Topiknya sangat menarik, yaitu tentang Program Roots Indonesia. Program Roots Indonesia adalah program pencegahan perundungan di satuan pendidikan yang mengedepankan partisipasi peserta didik sebagai agen perubahan. Program ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan, dalam regulasi tersebut mengatur setiap satuan pendidikan untuk membuat program pencegahan kekerasan yang berprinsip pada perlindungan hak pendidikan anak, anti kekerasan, non diskriminasi, partisipasi, serta kepentingan terbaik bagi anak. Setelah saya mempelajari topik ini, saya termotivasi untuk menjadi fasilitator Program Roots Indonesia dan dapat mengaplikasikannya di sekolah.

Tips dari saya untuk pembaca khususnya bapak/ibu guru, apabila timbul masalah yang terjadi dalam lingkungan sekolah, segera identifikasi kemudian cari solusinya, jadikan permasalahan sebagai dasar penyusunan strategi pembelajaran yang berpihak pada murid. Kolaborasi antar seluruh warga sekolah termasuk pelibatan pihak lain yang terkait sangat penting, karena dari kerjasama itulah dapat muncul beragam ide untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di sekolah. Saran atau informasi yang didapatkan dari warga sekolah dapat menjadi sumbangan pemikiran yang berharga demi peningkatan mutu dan layanan pendidikan di sekolah. Tips lainnya yaitu tetaplah menjadi guru pembelajar dan rajin-rajinlah mengikuti pelatihan mandiri yang tersedia dalam Platform Merdeka Mengajar, karena didalamnya terdapat topik-topik yang sesuai dengan kebutuhan guru, salah satunya adalah topik Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Semoga bermanfaat.

Mengenal Pendekatan Deep Learning Dalam Pembelajaran

  Belajar di Mini Teater Edukatif Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan (Foto: Sigid PN) Bagi saya, guru adalah profesi yang sangat mulia, dan...