Belajar di Mini Teater Edukatif Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan (Foto: Sigid PN)
Bagi saya, guru adalah profesi yang sangat mulia, dan menjadi seorang guru merupakan panggilan jiwa. Dari apa yang telah saya pelajari ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 11, bahwasannya pendidikan harus memerdekakan manusia agar bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan, memperhatikan kodrat alam dan zaman, memperhatikan kepentingan anak-anak didik, baik secara pribadi maupun sosial, memerdekakan manusia secara fisik, mental, jasmani, dan rohani, membentuk karakter dan moral murid, ruang untuk bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan, dan pendidikan harus menjadi tempat persemaian benih-benih kebudayaan.
Atas dasar tersebut di atas membuat saya ingin selalu menjadi guru pembelajar, tentunya agar saya dapat memiliki kompetensi yang tetap kekinian, dapat beradaptasi dengan keadaan zaman, dan dapat melaksanakan tugas dengan baik sesuai pedoman yang telah diterbitkan oleh Kemendikdasmen RI.
Saya bertugas sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMPN Satu Atap Cibulan yang berlokasi di Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Saya sangat tertarik dengan pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran yang disampaikan oleh Mendikdasmen RI Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. Dari rasa ketertarikan tersebut menimbulkan keingintahuan yang dalam agar tidak terjadi miskonsepsi, dan saya dapat menerapkannya dengan baik di kelas. Saya akan selalu berupaya untuk dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid-murid dengan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Mengenal Deep Learning
Dalam konteks pendidikan, Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam dalam cakupan materi yang lebih sempit.
Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (Mindful), bermakna (Meaningful), dan menggembirakan (Joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), serta olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu.
Dengan kata lain, pembelajaran Deep Learning adalah pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, pemikiran kritis dan koneksi antar konsep atau materi yang dipelajari. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hafalan fakta atau prosedur, tetapi juga pada penerapan pengetahuan dalam situasi baru serta kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan sesuatu berdasarkan pemahaman.
Secara sederhana, Deep Learning dalam pendidikan adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengedepankan penguasaan pengetahuan secara mendalam, pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan pemahaman yang menyeluruh terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Dalam hal ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk menghafal informasi, tetapi diharapkan bisa menghubungkan, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks yang lebih luas.
Menurut Kamus Cambridge, Deep Learning atau pembelajaran mendalam adalah cara untuk mempelajari sesuatu sehingga sepenuhnya memahami hal itu dan tidak akan melupakan pembelajaran tersebut.
Sedangkan menurut Catherine McAuley College, Deep Learning membuat murid mampu berpikir kritis, komunikasi, serta bekerja dengan orang lain secara efektif di semua mata pelajaran. Deep Learning membuat murid bisa mengarahkan ilmu dan mengambil hal yang dipelajari untuk diterapkan ke situasi lain sebagai pembelajaran seumur hidup. Pada pembelajaran mendalam, murid akan meneliti fakta dan ide baru secara kritis serta mengaitkannya ke struktur kognitif dan membuat banyak kaitan antara ide yang ada.
Pembelajaran Deep Learning fokus mencari konsep memecahkan masalah, aktif berinteraksi, menggabungkan berbagai modul belajar, dan menerapkan pembelajaran ke kehidupan nyata. Murid yang menerapkannya menjadi punya rasa ingin tahu dan rasa percaya diri yang tinggi, terlibat secara mental, berpendidikan yang sesuai, serta fokus pada minat dan manajemen waktu yang baik.
Pada pendekatan Deep Learning, murid didorong untuk secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan menyelami topik yang sedang dipelajari, sehingga ia dapat menjelajah lebih dalam dan menikmati keindahan panorama dari topik tersebut. Pendekatan Deep Learning berbeda dengan pembelajaran yang hanya menekankan hafalan atau keterampilan permukaan. Pembelajaran Deep Learning lebih fokus pada pemahaman yang mendalam, analisis, penalaran logis dan solusi kreatif terhadap masalah yang ada. Murid diajak untuk benar-benar memahami prinsip dan konsep dasar suatu materi, bukan hanya menghafalnya. Fokus pada bagaimana dan mengapa suatu hal terjadi, serta penerapan konsep dalam kehidupan nyata.
Kebalikan dari Deep Learning adalah Surface Learning atau pembelajaran permukaan. Surface Learning hanya membuat murid menerima fakta baru tanpa berpikir kritis, fokus pada hafalan, pasif menerima informasi, tidak mengembangkan materi, dan belajar untuk ujian. Murid dengan Surface Learning tidak fokus pada bidangnya, kurang pengetahuan, beban belajar terlalu tinggi, dan hanya sekadar mengingat informasi.
Guru dalam pembelajaran Surface Learning tidak memberikan materi yang mendalam, membiarkan murid pasif, menilai soal isian pendek, dan memberi beban tugas banyak untuk murid. Contoh Surface Learning antara lain yaitu guru hanya memberi pelajaran ke murid di kelas. Kemudian, murid harus menghafal pelajaran tadi untuk dites dalam ujian sekolah.
Pendekatan pembelajaran Deep Learning sangat kontras dengan pendekatan pembelajaran Surface Learning (belajar di permukaan) yang berusaha membahas banyak materi secara luas dengan mengorbankan proses pemahaman dan peningkatan kompetensi dari para peserta didik. Murid akhirnya hanya terpaksa menghapal banyak hal tanpa dapat memaknai, memiliki, dan menikmati proses pembelajarannya.
Landasan Filosofis
Pendidikan idealnya tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memerdekakan, membentuk karakter, dan memberdayakan manusia untuk berkontribusi positif kepada masyarakat. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada kemandirian peserta didik, didukung oleh sistem among yang mencakup nilai asah, asih, asuh. Dalam pandangannya, pendidikan harus berakar pada budaya bangsa, berfungsi sebagai pranata sosial yang melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sebagaimana tercermin dalam konsep “Taman Siswa.”
Filosofi ini sejalan dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, yang melihat pendidikan sebagai alat perubahan sosial. Baginya pendidikan bukan hanya transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia berintegritas yang berperan aktif dalam menciptakan masyarakat berkemajuan dengan prinsip berbuat untuk kebaikan bersama tanpa memperalat orang lain. Menurut K.H. Hasyim Asy’ari pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan kolektif dan individu dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan sosial secara holistik. K.H. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan sejahtera melalui pendekatan yang inklusif, bermutu, dan relevan.
Landasan Yuridis.
Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merupakan hak setiap warga negara telah disampaikan dalam Pembukaan dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembelajaran Mendalam menjadi instrumen penting guna memenuhi hak warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.
Pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan pada suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Selanjutnya Pasal 3 Undang-Undang Sisdiknas mengamanatkan agar pendidikan ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian, Pembelajaran Mendalam diterapkan untuk mewujudkan dimensi profil lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, memiliki keterampilan sosial, dan keterampilan belajar sebagai warga negara.
Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).
Dari kegiatan MGMP Pendidikan yang saya ikuti, saya dapat memahami kerangka kerja dari pembelajaran mendalam. Kerangka kerja tersebut terdiri dari:
- Kerangka Pembelajaran: Praktik Paedagogis, Lingkungan Pembelajaran, Pemanfaatan Digital, dan Kemitraan Pembelajaran.
- Pengalaman Belajar: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
- Prinsip Pembelajaran: Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.
- Delapan Dimensi Profil Lulusan: Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, serta Komunikasi.
Murid Kelas 9 SMPN Satu Atap Cibulan Mengunjungi Mini Teater Edukatif Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan (Sumber: Sigid PN)
3 Prinsip Pembelajaran Deep Learning.
Menurut Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu'ti, terdapat 3 prinsip pembelajaran dalam pendekatan Deep Learning, yakni Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning. Prinsip belajar dengan Pendekatan Mendalam pada Naskah Akademik dijelaskan secara gamblang bahwasannya melalui proses Meaningful Learning murid dapat memaknai hal-hal yang sedang murid pelajari. Kemudian, melalui proses Mindful Learning, murid dapat menjadi agen aktif yang secara sadar berniat untuk mengembangkan pemahaman dan kompetensinya. Sedangkan melalui proses Joyful Learning membuat murid menjadi termotivasi dalam menjalani proses pembelajarannya. Mari kita bahas ketiga prinsip ini secara lebih mendalam.
Mari kita bahas ketiga prinsip ini secara lebih mendalam.
1. Meaningful Learning.
Teori Meaningful Learning yang dicetuskan oleh David Ausubel menjelaskan proses pembelajaran dimana guru membantu siswa untuk mengaitkan konsep baru yang akan diajarkan dengan konsep-konsep yang sebelumnya sudah mereka pahami. Proses belajar Meaningful Learning ini bertujuan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi murid.
2. Mindful Learning.
Mindful Learning seringkali dikenal sebagai metakognisi dalam teori pendidikan. Dalam Mindful Learning, murid diajak untuk senantiasa sadar akan proses pembelajaran yang sedang murid jalani. Kesadaran ini terdiri dari beberapa aspek, yaitu:
- Kesadaran akan hal-hal yang sudah murid pahami atau kuasai sebelumnya.
- Kesadaran akan hal-hal yang belum murid pahami atau kuasai.
- Kesadaran akan pentingnya pemahaman atau penguasaan kompetensi dari apa yang murid sedang pelajari.
- Kesadaran akan alur proses pembelajaran yang sedang murid jalani demi tercapainya pemahaman atau kompetensi yang ingin ia capai.
- Kesadaran akan kemajuan pemahaman atau kompetensi setelah merefleksikan proses pembelajaran yang telah murid lewati.
- Kesadaran akan hal-hal yang masih dapat dieksplorasi lebih lanjut dalam proses pembelajaran berikutnya.
Dengan demikian, murid dituntun untuk menjadi agen aktif yang bertanggung jawab atas proses pembelajarannya sendiri.
Berbeda dengan orang dewasa, kesadaran ini bukanlah sesuatu yang dapat timbul secara otomatis dalam diri anak-anak, sehingga guru harus terus-menerus menghidupkan kesadaran ini dari awal sampai akhir proses pembelajaran.
Misalnya, guru bisa membiasakan murid untuk selalu membuat kesimpulan pembelajaran sendiri di akhir sesi ajar dan merefleksikan perkembangan pemahaman atau kompetensinya. Melalui proses refleksi ini, murid dapat memahami kekuatan dan kelemahan mereka masing-masing, serta memiliki target yang lebih jelas untuk pembelajaran berikutnya.
3. Joyful Learning.
Joyful Learning menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang positif agar murid dapat menikmati setiap bagian dari proses pembelajaran. Contohnya, pendekatan pembelajaran melalui permainan (game) atau aktivitas interaktif dapat membuat murid lebih antusias dalam belajar.
Hal tersebut sangat penting untuk mendorong anak-anak agar lebih terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan menikmati pengalaman belajarnya. Terlebih lagi apabila Joyful Learning dipadukan dengan aspek Meaningful Learning dan Mindful Learning, murid akan dapat memiliki motivasi intrinsik dalam belajar dan akhirnya terdorong untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Murid Kelas 7 SMPN Satu Atap Cibulan Membuat Konten Kreatif Tema Stop Bullying di Sekolah (Sumber: Sigid PN)
Manfaat Penerapan Deep Learning dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah
Penerapan Deep Learning dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan tuntutan abad ke-21.
Melansir World Economic Forum, salah satu alasan kuat mengapa pendekatan ini diperlukan adalah karena relevansinya dengan kompetensi abad 21 atau 21st Century Skills, yang terbagi menjadi tiga poin besar, yaitu adalah Foundational Literacies, Competencies, dan Character Qualities.
1. Foundational Literacies (Literasi Dasar).
Keterampilan literasi dasar merupakan skill yang dapat membantu murid untuk mengaplikasikan pengetahuan inti pada kehidupan sehari-hari. Pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran murid dapat membangun fondasi yang kuat dalam keterampilan ini, sehingga murid mampu menggunakan kemampuan dasarnya dalam situasi nyata.
Kemampuan ini mencakup beberapa poin sebagai berikut:
- Literacy (Literasi). Dengan pendekatan Deep Learning, literasi murid tidak hanya dibatasi pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami makna di balik informasi yang diserap.
- Numeracy (Kemampuan Numerik). Daripada hanya menghafal rumus, dengan Deep Learning, murid didorong untuk memahami konsep dasar, sehingga mereka dapat menerapkannya dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari.
- Scientific Literacy (Literasi Sains). Deep Learning dapat membantu murid untuk mengaitkan konsep sains dengan kehidupan nyata dan menyelami proses penemuan ilmiah secara lebih mendalam.
- ICT Literacy (Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dengan Deep Learning, murid dapat mempelajari cara mengelola informasi digital dengan lebih bijak, memahami etika penggunaan teknologi, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Financial Literacy (Literasi Keuangan). Melalui pendekatan Deep Learning, murid dapat memahami konsep dasar ekonomi, cara mengelola uang, dan memahami dampak dari setiap keputusan finansial yang mereka lakukan.
- Cultural and Civic Literacy (Literasi Budaya dan Kewarganegaraan). Penerapan pendekatan Deep Learning memungkinkan murid memahami nilai budaya dan kewarganegaraan secara lebih mendalam, menghargai perbedaan budaya, serta memahami peran mereka sebagai warga negara yang aktif dan bertanggung jawab.
2. Competencies (Kompetensi).
Kompetensi mencakup cara murid menghadapi tantangan kompleks, yang meliputi keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Deep Learning mampu mendorong murid untuk memiliki pendekatan yang lebih mendalam dan analitis terhadap tantangan yang akan mereka hadapi di masa kini maupun masa mendatang.
Kompetensi ini mencakup beberapa poin, antara lain adalah sebagai berikut:
- Critical Thinking / Problem Solving (Berpikir Kritis / Pemecahan Masalah). Pendekatan Deep Learning mengajarkan murid untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi yang inovatif.
- Creativity (Kreativitas). Dalam pendekatan Deep Learning, murid didorong untuk bereksperimen, menghubungkan ide-ide, dan menghasilkan pemikiran yang original.
- Communication (Komunikasi). Pendekatan Deep Learning memungkinkan murid-murid untuk berkomunikasi secara lebih efektif dengan membiasakan mereka berbicara, mendengar, dan memberikan umpan balik positif dalam proses pembelajaran.
- Collaboration (Kolaborasi). Deep Learning akan mendorong murid untuk belajar bekerja sama dalam tim, menghargai kontribusi rekan satu tim, dan mengembangkan empati.
3. Character Qualities (Kualitas Karakter).
- Deep Learning sangat membantu murid untuk membentuk kualitas karakter yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah. Kualitas karakter ini mencakup beberapa poin sebagai berikut:
- Curiosity (Rasa Ingin Tahu). Deep Learning akan membiasakan murid untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dengan cara mengajak mereka menggali informasi dan bertanya secara lebih mendalam terkait suatu topik.
- Initiative (Inisiatif). Dengan pendekatan Deep Learning, murid akan dilatih untuk proaktif dan inisiatif dalam mencari jawaban dan solusi.
- Persistence / Grit (Ketekunan). Pendekatan Deep Learning membiasakan murid untuk bekerja keras, terus mencoba, tidak mudah menyerah, dan mampu memecahkan masalah hingga tuntas, sehingga dapat mengembangkan ketekunan dalam mencapai tujuan.
- Adaptability (Kemampuan Beradaptasi). Deep Learning mampu mendorong murid untuk terbiasa dengan adanya perubahan, baik dalam proses belajar maupun dalam kehidupan mereka, sehingga mereka lebih fleksibel dalam menghadapi situasi baru.
- Leadership (Kepemimpinan). Pada pembelajaran berbasis kelompok dalam Deep Learning dapat memberikan kesempatan bagi murid untuk memimpin dan mengambil tanggung jawab.
- Social and Cultural Awareness (Kesadaran Sosial dan Budaya). Deep Learning dapat memfasilitasi murid untuk membangun kesadaran sosial dan budaya yang kuat, serta menghargai keragaman dan perbedaan sebagai sesuatu yang bisa memperkaya pengalaman belajar mereka.
Dengan diterapkannya pendekatan Deep Learning di kelas, murid dapat berkembang menjadi individu yang lebih kritis, memiliki pemahaman mendalam, dan mampu berpikir reflektif. Manfaat pendekatan Deep Learning antara lain yaitu:
- Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Murid dapat belajar untuk menilai informasi secara kritis dan mengidentifikasi solusi berdasarkan data dan fakta.
- Kontekstualisasi pengetahuan. Murid mampu menghubungkan pengetahuan teoritis dengan penerapan di kehidupan nyata mereka. Misalnya murid dapat memahami prinsip-prinsip dalam pelajaran Pendidikan Pancasila sehingga mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.
- Pembelajaran mandiri dan kolaboratif. Murid dapat mengembangkan rasa percaya diri murid dan keterampilan komunikasi melalui metode diskusi kelompok, eksperimen, atau proyek penelitian.
Setelah saya memahami tentang pembelajaran dengan pendekatan Deep Learning ini, kemudian saya mulai merancang strategi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid-murid di kelas, karena kondisi murid-murid yang berbeda serta memiliki keunikannya tersendiri.
Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Deep Learning di Kelas 8 Pada Bab Melestarikan Budaya Bangsaku, Sub Bab Pelestarian Tradisi, Kearifan Lokal dan Budaya Nasional.
Latar belakang permasalahan pembelajaran yang saya alami yaitu rendahnya motivasi belajar pada beberapa murid kelas 8, terlihat mereka tidak fokusdalam belajar, mudah menyerah ketika diberikan tugas, dan pengerjaan soal yang asal-asalan.
Oleh karena itu, dalam pendekatan belajar yang digunakan harus dapat mengatasi kesulitan belajar murid, tentunya berkaitan dengan interaksi, suasana belajar, landasan belajar, lingkungan belajar, perancangan pengajaran serta penyampaian materi pelajaran.
Pada praktiknya, saya membagi kegiatan belajar mengajar menjadi beberapa tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, umpan balik, refleksi, evaluasi, dan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Tahapan aksi yang pertama saya lakukan dalam persiapan pembelajaran yaitu adalah:
- Melakukan asesmen awal pembelajaran.
Asesmen awal pembelajaran bertujuan agar saya dapat melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tiga aspek, yaitu mengetahui kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid melalui wawancara serta melakukan survey di kelas menggunakan angket, merencanakan strategi pembelajaran berdasarkan hasil pemetaan dengan memberikan berbagai pilihan cara belajar, kemudian dilanjutkan dengan mengevaluasi dan merefleksikan pembelajaran yang sudah berlangsung.
Murid Kelas 8 SMPN Satu Atap Cibulan Mempraktikkan Permainan Khas Daerah Sebagai Kekayaan Budaya Lokal (Sumber: Sigid PN)
- Merancang pendekatan Pembelajaran Mendalam.
Dalam kegiatan belajar, saya mengajak murid-murid untuk praktik permainan engklekan khas daerah lokal. Murid-murid secara bergotong royong mempersiapkan peralatan yang digunakan dalam permainan tersebut. Selain itu, saya melibatkan murid dalam diskusi kelompok, dan proyek kolaboratif yang memungkinkan mereka saling berbagi pengetahuan dan perspektif. Proses diskusi dalam kelompok juga sangat memungkinkan murid untuk mengembangkan keterampilan komunikasi juga keterampilan sosial. Memanfaatkan berbagai ragam sumber belajar serta media ajar juga akan menjadi faktor pendukung pembelajaran yang aktif mendalam, bermakna, dan menyenangkan.
- Memilih Model dan Metode pembelajaran yang berpusat pada murid.
Pada jenjang SMP, pembelajaran yang berpusat pada murid dapat diterapkan melalui pembelajaran berbasis proyek (Projet Based Learning), CTL, STEM, Pembelajaran konstruktivisme, pendekatan saintific, LOTS, HOTS. Inquiry, discovery, studi kasus, praktik, eksperimen, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, demonstrasi, simulasi, diskusi, ceramah, tanya jawab, dan lainnya. Sedangkan media pembelajaran yang digunakan antara lain artikel, berita, dokumen, gambar, video, model, atau benda-benda yang relevan dengan materi yang sedang dipelajari.
Selanjutnya pada proses pembelajaran di kelas, saya menggunakan peralatan TIK yang dimiliki sekolah seperti Laptop, Chromebook, akun belajar.id, dan aplikasi-aplikasi yang dapat di untuk mendukung pembelajaran seperti Canva untuk membuat presentasi visual, Wordwall, Google Sites, Padlet, dan Mentimeter.
Di akhir pembelajaran saya meminta umpan balik dari murid tentang bagaimana perasaan dan pengalaman belajar mereka. Setelah itu kemudian saya merefleksikan serta mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran di kelas yang sudah berlangsung. Dari hasil refleksi dan evaluasi, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan diterapkannya pendekatan Deep Learning di kelas, murid dapat berkembang menjadi individu yang lebih kritis, memiliki pemahaman mendalam, dan mampu berpikir reflektif.
Berikut dampak yang dirasakan dari penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila Bab Melestarikan Budaya Bangsaku, Sub Bab Pelestarian Tradisi, Kearifan Lokal, dan Budaya Nasional di kelas 8 SMPN Satu Atap Cibulan.
- Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Murid dapat belajar untuk menilai informasi secara kritis dan mengidentifikasi solusi berdasarkan data dan fakta.
- Kontekstualisasi pengetahuan. Murid mampu menghubungkan pengetahuan teoritis dengan penerapan di kehidupan nyata mereka. Misalnya murid dapat memahami prinsip-prinsip dalam pelajaran Pendidikan Pancasila sehingga mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.
- Pembelajaran mandiri dan kolaboratif. Murid dapat mengembangkan rasa percaya diri murid dan keterampilan komunikasi melalui metode diskusi kelompok, eksperimen, atau proyek penelitian.
Murid mengalami peningkatan pada motivasi belajarnya, termasuk mengalami peningkatan keterampilan hard skill dan softskill, murid mampu merefleksikan diri dalam belajar, murid juga merasa senang, merasa sangat dilibatkan dalam proses pembelajaran, serta murid merasa kebutuhan belajarnya terfasilitasi, dan terlayani dengan baik.
Penerapan Deep Learning meningkatkan keterampilan murid untuk berpikir secara mendalam dan terstruktur. Murid dapat meneliti fakta dan ide baru secara kritis serta mengaitkannya ke struktur kognitif serta membuat banyak kaitan antara ide yang ada.
Selain itu, murid juga dapat fokus mencari konsep dalam memecahkan masalah, aktif berinteraksi, menggabungkan berbagai modul belajar, memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, terlibat secara mental, serta murid dapat mengarahkan ilmu dan mengambil hal yang dipelajari untuk diterapkan dalam kehidupan nyata.
Sedangkan dampak bagi sekolah adalah peningkatan kompetensi guru yang kemudian mempermudah ketercapaian visi misi sekolah, serta peningkatan mutu dan layanan pendidikan.
Ada Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang telah saya susun sebagai langkah selanjutnya agar supaya penerapan pendekatan Deep Learning ini dapat terus berjalan dengan baik, konsisten dan berkelanjutan. Rencana Tindak Lanjut tersebut yaitu adalah:
Komunikasi serta Kolaborasi dengan Kepala Sekolah, Rekan Sejawat, dan Murid. Guru perlu melakukan komunikasi dan kolaborasi dengan seluruh warga sekolah, baik itu dengan meminta saran serta masukan dari Kepala Sekolah, saling mengadakan observasi kelas dengan rekan sejawat, serta berkomunikasi dengan murid untuk mengetahui dan mengakmodir kebutuhan belajarnya.
Kolaborasi dengan Orang Tua/Wali Murid Sebagai Guru Tamu. Salah satu bentuk kolaborasi yaitu dengan mengundang orang tua/wali murid untuk menjadi guru tamu di kelas, dengan cara tersebut proses pembelajaran menjadi lebih bervariasi.
Tips dari saya, guru sebaiknya melakukan asesmen awal pembelajaran agar dapat memetakan gaya belajar serta kebutuhan belajar murid, merancang strategi pembelajaran yang berpihak pada murid, dan kemudian aplikasikan di kelas dengan baik. Lakukanlah refleksi dan evaluasi proses pembelajaran yang sudah berlangsung, kemudian perbaiki kelemahannya.
Guru perlu berlatih agar tidak hanya sebagai pemberi informasi, akan tetapi guru mampu berperan sebagai fasilitator, mentor, desainer pembelajaran, dan pemicu rasa ingin tahu yang dapat mendukung eksplorasi serta analisis murid.
Keterampilan yang dibutuhkan antara lain yaitu adalah keterampilan bertanya serta mendengarkan aktif, keterampilan memberikan umpan balik yang dapat memberdayakan, keterampilan membimbing refleksi, manajemen kelas, dan keterampilan memahami tingkat perkembangan murid. Demikian, semoga tulisan ini dapat menginspirasi.